KAMPAR – Aktivitas perkebunan kelapa sawit seluas 2.800 hektar di Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, kembali menjadi sorotan setelah Suparman turun langsung ke Pos 7 Kebun KNES bersama sejumlah tenaga pengamanan menakut nakuti masyarakat.
Kehadiran preman bayaran tersebut memicu keresahan sebagian masyarakat. Warga menilai pola pengamanan yang dilakukan menyerupai intimidasi terhadap kelompok masyarakat yang selama ini berselisih dalam konflik pengelolaan lahan koperasi.
“Kenapa harus bawa pengamanan seperti itu? Masyarakat jadi takut. Ini sudah seperti cara-cara mafia lahan,” ujar seorang warga, Kamis (7/5/2026).
Dalam keterangannya kepada media, Suparman menyebut dirinya turun langsung untuk memastikan aktivitas produksi kembali berjalan normal, mulai dari perawatan kebun, perbaikan jalan hingga panen sawit.
Namun pasca penangkapan Ketua Koperasi KNES Haji Alwi oleh Polda Riau, masyarakat kini mulai meminta aparat penegak hukum bersikap adil dan turut memeriksa seluruh pihak yang diduga terlibat dalam persoalan koperasi maupun konflik lahan di Senama Nenek.
“Kalau hukum mau tegak, jangan tebang pilih. Semua pihak yang diduga terlibat mulai dari Kades dan mafia mengintimidasi masyarakat harus ditangkap,” kata warga lainnya.
Di tengah polemik itu, sejumlah masyarakat mengaku menjadi korban dugaan persoalan pengelolaan koperasi dan sertifikat lahan.
“Kami juga salah satu korban kedzolimannya. Sertifikat dipermainkan, gaji tak cair hitungan tahunan,” ungkap Nashihah.
Keluhan serupa juga disampaikan Fauzanov Azimov yang menilai amanah pengelolaan koperasi tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
“Padahal sudah dikasih amanah, malah ingkar. Sebaiknya diambil alih saja oleh perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekar mengaku hanya bisa berharap kepada keadilan Tuhan atas persoalan yang dialami masyarakat.
“Doa orang yang dizolimi pasti dikabulkan Allah,” katanya.
Keluhan lebih serius datang dari pelaku usaha tani yang mengaku banyak petani kehilangan sertifikat setelah diminta menyerahkan dokumen untuk program replanting.
“Banyak petani ditipu. Sertifikat diminta dengan alasan replanting dan kalau tidak diserahkan tidak bisa gajian. Setelah diserahkan malah hilang dan berpindah tangan,” ujar seorang warga yang mengaku sebagai petani di wilayah tersebut.
Rudi, warga lainnya, juga mengaku mengalami hal serupa.
“Saya juga korban. Bukan cuma gaji yang tidak jelas, sertifikat pun sampai sekarang belum kembali,” katanya.
Sebagian masyarakat kini mulai mendorong korban-korban lain agar berani membuat laporan resmi ke Polda Riau.
“Sekarang waktunya masyarakat melapor supaya semuanya terang,” ujar warga lainnya.
Situasi di lapangan sendiri masih dijaga aparat keamanan untuk menghindari bentrokan antar kelompok masyarakat. Aparat TNI dari Babinsa Desa Senama Nenek tampak berjaga di sekitar Pos 7 kebun KNES guna memastikan kondisi tetap kondusif.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polda Riau terkait adanya laporan hukum terhadap Suparman maupun dugaan intimidasi dan terlibat aliran dana sawit yang dikeluhkan sebagian masyarakat.***MDn
#Suparman #H Alwi Ketua KNES #koperasi KNES #Desa Sinamanenek