Pagar Rp 850 Miliar di Way Kambas: Lindungi Gajah atau Proyek Mahal yang Menutup Kegagalan Negara?

Pagar Rp 850 Miliar di Way Kambas: Lindungi Gajah atau Proyek Mahal yang Menutup Kegagalan Negara?

Way Kambas- Langkah Kementerian Kehutanan Republik Indonesia membangun pagar raksasa sepanjang 138 kilometer di Taman Nasional Way Kambas dengan anggaran fantastis Rp 850 miliar memantik pertanyaan keras dari publik: ini solusi nyata, atau sekadar proyek besar untuk menutupi kegagalan pengelolaan hutan selama puluhan tahun?

Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, proyek ini diklaim sebagai upaya permanen mengakhiri konflik manusia dan gajah. Namun narasi “penyelamatan satwa” mulai dipertanyakan ketika solusi yang dipilih justru bersifat fisik, mahal, dan berpotensi menyederhanakan persoalan kompleks.

Masalahnya Habitat Rusak, Solusinya Malah Pagar?

Konflik manusia dan gajah bukan terjadi tanpa sebab. Perambahan hutan, ekspansi industri, hingga lemahnya pengawasan kawasan konservasi adalah akar persoalan yang nyata.

Alih-alih memperbaiki ekosistem dan menertibkan perusak hutan, negara justru membangun pembatas. Apakah ini bentuk perlindungan, atau justru pengakuan diam-diam bahwa negara gagal menjaga habitat aslinya?

Anggaran Jumbo, Aroma Proyek Tak Terhindarkan

Nilai Rp 850 miliar bukan angka kecil. Publik berhak bertanya:

Siapa yang mengerjakan proyek ini?

Bagaimana mekanisme tendernya?

Seberapa efektif pagar ini dalam jangka panjang?

Tanpa transparansi penuh, proyek konservasi berisiko berubah menjadi ladang proyek berkedok penyelamatan lingkungan.

Gajah Diuji ke Pagar: Ironi Kebijakan

Rencana menguji kekuatan pagar dengan gajah justru memperlihatkan ironi. Satwa yang disebut ingin dilindungi, malah dijadikan alat uji kebijakan manusia.

Ini bukan sekadar teknis ini soal cara pandang terhadap konservasi itu sendiri.

Masyarakat Tetap Jadi Korban

Selama ini, warga sekitar kawasan konservasi hidup dalam ketakutan: lahan rusak, panen gagal, bahkan nyawa terancam. Namun solusi konkret untuk kesejahteraan mereka kerap tertunda.

Ketika negara hadir dengan proyek ratusan miliar, publik pun bertanya:

apakah ini untuk rakyat dan lingkungan, atau sekadar pencitraan kebijakan besar?

Konservasi Masuk Skema Pasar: Solusi atau Komersialisasi Alam?

Masuknya skema kredit karbon dan obligasi keanekaragaman hayati menandai arah baru: konservasi mulai diperdagangkan.

Di satu sisi ini disebut inovasi, tapi di sisi lain memunculkan kekhawatiran:

apakah hutan akan dijaga, atau justru dijadikan komoditas baru?

Penutup: Pagar Bisa Dibangun, Tapi Masalah Tak Selesai

Pagar baja bisa berdiri kokoh, tapi konflik tidak akan selesai jika akar masalah diabaikan.

Tanpa perbaikan tata kelola hutan, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, dan keberpihakan pada masyarakat lokal, proyek ini berpotensi menjadi:

Monumen mahal dari kegagalan panjang yang dibungkus narasi konservasi.***MDn

#Pagar Gajah #Way Kambas #Taman Nasional