AUTOGATE CANGGIH, PUNGLI MASIH LIAR: Skandal Imigrasi Batam Telanjangi Bobroknya Sistem

AUTOGATE CANGGIH, PUNGLI MASIH LIAR: Skandal Imigrasi Batam Telanjangi Bobroknya Sistem

BATAM - Batam kembali menjadi sorotan, bukan karena kemajuan pelayanan, melainkan karena dugaan praktik kotor yang justru terjadi di gerbang utama Indonesia. Di tengah gembar-gembor modernisasi sistem keimigrasian, dugaan pungutan liar terhadap turis asing membongkar wajah asli birokrasi yang masih sarat penyimpangan.

Kementerian Imigrasi terpaksa menonaktifkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Hajar Aswad, setelah kasus ini mencuat ke publik. Langkah ini terkesan cepat, namun menyisakan pertanyaan besar: apakah ini bentuk ketegasan, atau sekadar upaya meredam skandal?

Kasus ini bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan indikasi kuat adanya praktik sistematis. Modusnya terstruktur: korban diarahkan ke ruang pemeriksaan tertutup, dipingpong secara administratif, lalu “diselamatkan” oleh pihak tertentu dengan harga mahal. Dalam salah satu kasus, korban bahkan diminta membayar hingga ratusan dolar Singapura uang yang diduga mengalir ke oknum petugas.

Fenomena ini menegaskan satu hal: pungli di tubuh pelayanan publik bukan lagi perilaku individual, melainkan telah menjelma menjadi pola yang terorganisir.

Kepala Ombudsman Kepulauan Riau, Lagat Siadari, secara terang menyebut bahwa kejadian ini tidak masuk akal di tengah sistem autogate yang seharusnya meminimalisir interaksi langsung. Namun fakta di lapangan berkata lain teknologi canggih tak berarti apa-apa ketika mental aparat masih korup.

Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini diduga berlangsung di ruang tertutup ruang yang seharusnya steril, namun justru menjadi arena gelap transaksi ilegal. Ini membuka potensi intimidasi, pemerasan, bahkan penyalahgunaan kewenangan tanpa pengawasan.

Penonaktifan pejabat hanyalah permukaan. Akar persoalan sesungguhnya terletak pada lemahnya pengawasan, budaya permisif, dan kemungkinan adanya jaringan internal yang bermain.

Jika pemerintah hanya berhenti pada pencopotan jabatan tanpa membongkar aliran uang, aktor intelektual, serta pola operasinya, maka kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak praktik yang tidak pernah benar-benar hilang.

Batam adalah wajah Indonesia di mata dunia. Namun dengan kejadian ini, yang terlihat bukan profesionalisme, melainkan potret buram birokrasi yang masih bisa “diatur”.

Pertanyaannya kini sederhana namun tajam:

negara ini sedang membangun sistem yang bersih, atau hanya mempercantik tampilan untuk menutupi kebusukan di dalamnya?***MDn

#Pungli Imigrasi Batam #Kota Batam